Manfaat Rempah-Rempah Yang Terkandung Dalam Minuman Tradisional HANJUANG :
CABAI JAWA / CABAI AREUY (Piper Retrofractum Vahl) ;
Obat sakit perut, beri-beri, reumatik, tekanan darah rendah, kolera, influenza, sakit kepala, lemah syahwat, masuk angin, bronchitis, sesak napas.
JAHE (Zingiber Officinale Roxb) ;
Sakit kepala, encok, masuk angin, gangguan pencernaan, keseleo.
KAYU MANIS (Cinnamomun Spp) ;
Anti diare, kejang perut, mengurangi sekresi pada usus.
KENCUR / CIKUR (Kaempfreria Galanga Linn) ;
Obat bengkak, reumatik, batuk, sakit perut, menambah nafsu makan, ekspektorant (pengencer dahak), disentri, encok.
LADA / PEDES (Piper Nigrum I) ;
Penurun demam, masuk angin, influenza, tekanan darah rendah.
CENGKEH (Syzgium Aromaticum) ;
Kolera, bau mulut/napas, menstabilkan denyut jantung.
LENGKUAS / LAJA (Lengkuas Galanga Linn, Stuntz) ;
Ruematik, sakit limpa, menambah nafsu makan, membangkitkan gairah seks, bronchitis, panu.
GINSENG (Panax Ginseng) ;
Menghangatkan badan, menambah stamina, meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi stress, meningkatkan gairah seks, menghambat tumor, menstabilkan tekanan darah, gangguan fungsi pencernaan.
PINANG / JAMBE (Areca Catechu) ;
Anti bakteri, mempertahankan daya seksual, mengurangi bau badan, obat cacing.
GULA SEMUT (Arenga Pinnata, Merr) ;
Demam, anti bakteri, sakit perut, menghilangkan noda di wajah, meningkatkan energi olahragawan, susah BAB.
Kamis, 04 Juni 2009
kayu manies

eningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pangan fungsional, merupakan peluang yang tak boleh disiakan, termasuk minuman kesehatan, di mana berbagai produk minuman kesehatan dijajakan di pasar, membuat konsumen bingung memilih, apakah minuman tersebut benar-benar terbuat dari bahan alami atau bahan kimia berbahaya.
Melihat kondisi ini Sedarnawati Yasni dan Hanny Dulimarta, peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) membuat terobosan minuman kesehatan yang dikenal dengan Cinna-ale (jahe), demikian dijelaskan oleh Kepala Humas IPB, drh Agus Lelana di Bogor, Selasa.
"Minuman kesehatan ini terdiri dari rempah-rempah asli Indonesia," katanya dan menambahkan bahwa ramuan Kayu Manis dan jahe (Cinna-Ale) hasil penelitian itu berpotensi sebagai Antioksidan dan Antimikroba
Bahan yang diambil dari bumi Indonesia ini memiliki karakteristik warna merah, aroma dan rasa yang khas. Nama Cinna-ale berasal dari nama latin kayu manis (Cinnamomum burmannii) dan jahe (Zingiber officinale).
Selain mengembangkan produk Cinna Aale, kedua Dosen Departemen Teknologi Pangan dan Teknologi Industri IPB ini, juga meneliti aspek komponen aktif, aktivitas antioksidan dan antimikrobanya.
Cinna-Ale terdiri dari campuran 17 macam rempah-rempah, yaitu jahe, kayu secang, cabai jawa, kayu manis, sereh, lada putih, lada hitam, daun pandan, cengkeh, kembang pala, adas manis, kapulaga besar, kapulaga kecil, jintan hitam, pekak dan kayu mesoyi.
Secara umum proses pembuatan Cinna-ale meliputi penyiapan bahan baku, ekstraksi, penyaringan, dekantasi (pengendapan), pembotolan, dan sterilisasi.
Komponen aktif yang dikandung oleh minyak atsiri formula Cinna-ale diantaranya ialah trans-kariofilena, eugenol, miristin, N-terpinena, 1,8-sineol, terpineol, Z-sitral, geranial, 3-karena, 1-limonena, dan N-pinena.
Kesebelas komponen yang terdeteksi tersebut sangat berperan bagi kesehatan tubuh manusia, yaitu dapat mencegah masuk angin, batuk, influensa, rematik, muntah-muntah, memperlancar pencernaan, mengurangi keletihan tubuh dan sebagai antidiare.
Di samping itu, Cinna-ale berpotensi besar sebagai antioksidan alami.
Aktivitas antioksidan minyak atsiri formula Cinna Ale yang terukur IC50 = 56.70. Aktivitas antioksidan Cina ale ini lebih besar dibandingkan dengan aktivitas antioksidan sintetik butylated hydroxytoluene (BHT), yaitu IC50 = 60.81.
Antioksidan dapat berfungsi untuk menangkal radikal bebas, membentuk kompleks dengan logam pro-oksidan, bahan pereduksi dan memutuskan formulasi oksigen singlet sehingga melindungi tubuh dari penyakit degeneratif seperti kanker, penyakit jantung koroner, dan diabetes.
Hal ini dibuktikan dari hasil uji in vivo dengan menggunakan tikus Sprague Dawley jantan. Minuman kesehatan Cinna-ale 10% (w/v) dengan pH 5.74 dan total padatan terlarut 3.830Brix cukup efektif, menurunkan kadar kolesteraol serum darah pada dosis 1 ml/hari.
Aktivitas antimikroba minyak atsiri ini terhadap mikroba perusak dan patogen menunjukkan bahwa Cinna-ale memiliki kemampuan mengawetkan, sehingga tidak perlu lagi menambahkan bahan pengawet dan mencegah terjadinya keracunan makanan.
Hal ini terlihat dari aktivitas antimikrobnya yang sangat peka menghambat pertumbuhan Salmonella thypii (bakteri Gram negatif penyebab tipus), Bacillus cereus, dan Staphilococcus aureus (bakteri Gram positif penyebab gangguan pencernaan).
Keunggulan Teknologi Cinna-ale dapat dikonsumsi dalam keadaan panas, hangat, ataupun dingin dengan efek hangat di badan yang tetap dapat dirasakan. Cinna-ale tersebut dibuat dari bahan-bahan alami yang terrdiri atas rempah-rempah asli Indonesia, memiliki rasa yang disukai dan daya awet yang cukup baik.
Cinna Ale juga memiliki khasiat untuk kesehatan tubuh terutama mencegah masuk angin, batuk, influensa, rematik, muntah-muntah, melancarkan pencernaan, mengurangi keletihan tubuh, dan sebagai antidiare.
Selain itu, minuman ini bisa mencegah terjadinya oksidasi di dalam tubuh manusia, sehingga dapat melindungi tubuh dari penyakit degeneratif seperti kanker, penyakit jantung koroner, dan diabetes.
Produk Cinna-ale merupakan upaya dalam diversifikasi produk rempah-rempah, harganya dapat bersaing dengan minuman lain yang sudah ada di pasaran. Produk ini juga akan mendukung peningkatan citra produk pangan tradisional Indonesia.
Saat ini baru dikembangkan Cinna-ale instan dengan teknik spray dying dengan kadar formula 10 persen (w/v) dan bahan pengisi maltodekstrin 5 persen (b/v), serta total padatan terlarut berkisar antara 3.03 -3.750Brix.
"Temuan dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa bahan-bahan alami dari tumbuhan di Indonesia harus terus dikembangkan karena ternyata punya manfaat secara luas bagi masyarakat," demikian Agus Lelana. (antara/rita)
bumbu

Epochtimes.co.id) NEW YORK-Pengidap diabetes mungkin ingin mulai menambahkan bumbu masak pada makanannya, bila penemuan baru pada penelitian laboratorium ini terbukti pada manusia.
Dalam tabung percobaan laboratorium, para peneliti di University of Georgia, Athena, menemukan bahwa ekstrak beragam herbal dan rempah-rempah – seperti kayu manis, cengkeh, sage, dan rosemary– dapat menghambat proses perusakan yang di-sebabkan oleh tingginya kadar gula darah.
Ketika kadar gula darah tinggi, seperti yang diidap penderita diabetes secara kronis, dapat mendorong pembentukan susunan zat yang dikenal sebagai komponen AGE. Komponen ini, pada gilirannya, menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan otot, yang dapat mengakibatkan penyumbatan arteri dan penyakit jantung, umumnya berkaitan dengan diabetes.
Namun, paling tidak di laboratorium, sejumlah daun penyedap dan rempah-rempah nampaknya dapat membendung proses kimia yang membentuk komponen AGE tersebut, menurut penemuan baru yang dipublikasikan dalam Journal of Medicinal Food.
Apakah proses tersebut dapat terjadi di dalam tubuh manusia, belum diketahui dengan pasti. Dan bahkan walaupun hal tersebut benar, sajian makanan yang berbumbu tidak akan dapat menggantikan kontrol gula darah baik bagi pengidap diabetes, kata Dr. James L. Hargrove, seorang associate professor of foods and nutrition di the University of Georgia dan seorang peneliti utama.
Tetapi dia mengatakan kepada Reuters Health, “Ada alasan untuk menaruh harapan pada penelitian yang akan dikerjakan dalam beberapa tahun mendatang.”
Sementara itu, tidak akan membahayakan siapa pun dengan menambahkan daun penyedap dan rempah-rempah pada makanan mereka, catat Hargrove.
Manfaat anti–AGE dari daun penyedap dan rempah-rempah nampaknya diperoleh dari antioksidan tanaman yang disebut phenol, yang tersedia dalam konsentrasi tinggi pada produk penelitian Hargrove dan rekan-rekan studinya–semua bahan yang memiliki tingkat kekeringan yang beragam dibeli oleh para peneliti dari supermarket lokal.
Ketika mereka menguji kandungan phenol pada masing-masing rempah, kayu manis, cengkeh dan allspice Jamaika berada di peringkat paling atas; rempah-rempah itu juga menunjukkan potensi terbesar dalam membendung konfigurasi komponen AGE. Herba paling potensial adalah sage, marjoram (tanaman yang mengandung zat permen), tarragon, and rosemary.
Herbal dan rempah-rempah, kata Hargrove, adalah sumber antioksidan yang paling tinggi dalam makanan. Dia mencatat bahwa kayu manis, misalnya, mempunyai 50 hingga 100 kali “daya antioksidan” per unit berat ketimbang buah-buah berry segar (seperti raspberry, blackberry, strawberry dan lain sebagainya).
Menurut Hargrove, hal yang paling “menarik” dalam penelitian daun penyedap dan rempah-rempah adalah komponen dari tanaman tersebut yang tidak hanya menyediakan antioksidan bagi diri mereka sendiri tetapi juga bekerja pada sel tubuh kita untuk mengatur pertahanan antioksidan tubuh kita. Sumber: Journal of Medicinal Food, Juni 2008 (rtr/tnm/feb)



